Kenapa Membuat Konten Sekarang Terasa Melelahkan?

Kenapa Membuat Konten Sekarang Terasa Melelahkan


#Turunan  

Pernah Nggak…

Kamu lagi scroll.

Santai.

Siang hari.

Kopi masih hangat.

HP di tangan.

Tiba-tiba muncul konten seseorang.

Followers-nya banyak.

Engagement-nya ramai.

Caption-nya kena banget.

Kamu baca.

Diam sebentar.

Lalu tanpa sadar…

mulai membandingkan.

“Dia udah segitu…”

“Aku masih di sini.”

Taruh HP.

Buka laptop.

Mau nulis.

Tapi tangan nggak gerak.

Kepala penuh.

Tapi bukan penuh ide.

Penuh…

rasa nggak cukup.

Kalau kamu pernah ada di titik itu…

Jecky ngerti.

Karena Jecky juga pernah ada di sana.

Capeknya Bukan di Kontennya

Yang melelahkan sering kali bukan proses menulisnya.

Bukan proses risetnya.

Bukan proses publish-nya.

Tapi proses melihat orang lain terus-menerus.

Lalu diam-diam mengukur diri sendiri dari sana.

“Padahal aku juga sudah usaha.”

“Padahal aku juga konsisten.”

“Tapi kenapa hasilnya beda jauh?”

Dan semakin sering pertanyaan itu muncul…

semakin berat rasanya membuka halaman kosong.

Jecky Juga Pernah Ada di Fase Itu

Waktu pertama belajar bisnis online…

Jecky sering melihat pencapaian orang lain.

Si A closing ratusan juta.

Si B followers-nya naik terus.

Si C baru mulai tapi langsung ramai.

Dan Jecky?

Masih belajar.

Masih menulis.

Masih mencoba memahami semuanya satu per satu.

Awalnya masih memotivasi.

Tapi lama-lama…

malah bikin lelah.

Karena setiap melihat pencapaian mereka…

rasanya seperti melihat jarak yang belum bisa Jecky capai.

Makin sering melihat…

makin muncul rasa tertinggal.

Sampai suatu hari Jecky sadar sesuatu.

Hal yang selama ini nggak pernah terlihat di timeline.

Mereka sudah menjalani bagian yang tidak pernah muncul di layar.

Hari-hari ketika kontennya sepi.

Saat belum ada yang membaca.

Saat mulai ragu pada diri sendiri.

Saat tetap menulis meski belum tahu hasilnya akan ke mana.

Tapi semua bagian itu jarang terlihat.

Yang muncul biasanya cuma hasil akhirnya.

Dan tanpa sadar…

Jecky membandingkan proses mentah miliknya
dengan hasil jadi milik orang lain.

Kenapa Ini Sering Terjadi?

Karena kita ingin hasil yang sama.

Akhirnya yang ditiru bukan cuma ilmunya.

Tapi semuanya.

Gayanya.

Topiknya.

Cara ngomongnya.

Cara menulisnya.

Cara membangun kontennya.

Sampai satu titik…

kita lupa suara sendiri itu seperti apa.

Dan mungkin itu juga alasan kenapa banyak orang
rajin posting tapi tetap sulit diingat.

Karena terlalu sibuk mengikuti cara orang lain
sampai kehilangan karakter sendiri.

Jecky pernah membahas hal ini lebih dalam di artikel:

Kenapa Sudah Posting Setiap Hari Tapi Tetap Tidak Punya Audience?

Yang Jarang Disadari

Kamu sedang membandingkan:

behind the scene milikmu

dengan

highlight milik mereka.

Tentu saja hasilnya terasa berat.

Karena yang kamu lihat dari mereka hanyalah bagian terbaiknya.

Sedangkan yang kamu lihat dari dirimu adalah seluruh prosesnya.

Termasuk keraguannya.

Kesalahannya.

Kelelahannya.

Ketidakpastiannya.

Dan yang paling bahaya…

lama-lama bukan lagi kontennya yang diragukan.

Tapi diri kita sendiri.

Jecky pernah menulis lebih dalam tentang fase itu di artikel:

Kenapa Kita Mulai Meragukan Diri Sendiri Saat Konten Tidak Jalan?

Yang Pelan-Pelan Mulai Berubah

Jecky masih belajar soal ini.

Masih sering tergoda membandingkan diri.

Masih sering merasa tertinggal.

Tapi ada satu hal yang pelan-pelan berubah.

Jecky berhenti mengejar jadi seperti orang lain.

Dan mulai menambahkan sesuatu yang cuma Jecky punya.

Cerita sendiri.

Pandangan sendiri.

Pengalaman sendiri.

Bukan supaya viral.

Bukan supaya terlihat keren.

Tapi supaya tulisan itu terasa seperti Jecky.

Bukan seperti semua orang.

Dan anehnya…

justru di situ mulai ada yang berhenti membaca.

Mulai ada yang merasa terhubung.

Mulai ada yang berkata:

“Kayaknya gue pernah ngerasain ini juga.”

Mungkin Kita Cuma Lupa Menikmati Perjalanan Sendiri

Semakin lama Jecky menjalani proses ini…

semakin sadar satu hal.

Kadang yang membuat konten terasa melelahkan bukan karena kita kehabisan ide.

Bukan karena kita kurang mampu.

Tapi karena terlalu lama melihat perjalanan orang lain.

Sampai lupa bahwa kita juga sedang berjalan.

Dengan ritme yang berbeda.

Dengan cerita yang berbeda.

Dengan waktunya masing-masing.

Penutup

Semakin sering kita melihat perjalanan orang lain…

semakin mudah lupa bahwa kita juga sedang berjalan.

Padahal setiap orang punya waktu, ritme, dan jalannya sendiri.

Dan mungkin…

yang membuat konten terasa melelahkan bukan karena kamu kurang mampu.

Tapi karena terlalu lama mencoba menjadi orang lain.

Coba jujur.

Kalau semua akun lain menghilang hari ini…

kamu masih tahu nggak…

sebenarnya ingin menulis tentang apa?