Kenapa Overthinking Diam-Diam Menghambat Perjalanan Kita?

Kenapa Overthinking Diam-Diam Menghambat Perjalanan Kita


#Turunan   #Mindset

Pernah nggak…

Kamu lagi duduk santai.

Siang hari.

Kopi di meja.

Buka laptop.

Niat mau mulai.

Tapi sebelum jari menyentuh keyboard…

kepala sudah duluan jalan.

“Kayaknya ilmuku masih kurang deh.”

“Nanti kalau salah gimana?”

“Kalau hasilnya jelek gimana?”

“Tunggu habis kursus ini dulu ah…”

“Nanti kalau sudah lebih siap, baru mulai.”

Lalu laptop ditutup lagi.

Buka video.

Buka materi.

Daftar kelas lagi.

Dengan harapan kecil:

“Setelah ini… pasti lebih siap.”

Tapi anehnya…

rasa siap itu nggak pernah benar-benar datang.

Kalau kamu pernah ada di titik itu…

Jecky ngerti.

Banget.

Capeknya Bukan di Belajarnya

Yang melelahkan kadang bukan proses belajarnya.

Bukan juga karena kurang niat.

Tapi karena rasanya nggak pernah cukup.

Sudah belajar.

Sudah nonton.

Sudah ikut kelas.

Tapi tetap saja ada suara kecil yang bilang:

“Kayaknya belum siap.”

“Kayaknya masih kurang.”

Dan suara itu…

terus muncul.

Pelan.

Tapi melelahkan.

Kalau kamu pernah merasa semakin banyak belajar
tapi malah semakin bingung harus mulai dari mana,
Jecky pernah menulis lebih dalam soal itu di artikel:

Kenapa Ilmu Marketing Tidak Pernah Nyambung?

Jecky Juga Pernah Ada di Fase Itu

Waktu awal belajar digital marketing…

Jecky pikir semakin banyak belajar, semakin siap.

Jadi satu materi selesai.

Cari materi lain.

Satu kursus selesai.

Daftar lagi.

Awalnya terasa produktif.

Rasanya seperti sedang berkembang.

Tapi lama-lama…

kepala mulai penuh.

Bukan penuh kejelasan.

Tapi penuh kemungkinan.

“Kalau salah gimana?”

“Kalau gagal gimana?”

“Kalau ternyata belum cukup bagus gimana?”

Dan anehnya…

belum mulai apa-apa.

Tapi rasanya sudah capek duluan.

Sampai satu titik…

Jecky berhenti sebentar.

Dan di situ baru sadar.

Kadang yang bikin kita berhenti bukan kegagalan.

Tapi bayangan tentang kegagalan.

Padahal…

sesuatu yang belum terjadi…

sudah berhasil menghabiskan tenaga.

Kenapa Ini Sering Terjadi?

Karena kita terlalu sering hidup di masa depan.

Di sesuatu yang bahkan belum terjadi.

Pernah nggak…

kamu mau nulis sesuatu.

Laptop sudah terbuka.

Ide sebenarnya ada.

Tapi sebelum mulai mengetik…

kepala sudah sibuk sendiri.

“Kalau orang nggak suka gimana?”

“Kalau salah gimana?”

“Kalau nggak ada yang baca gimana?”

Akhirnya…

satu paragraf pun nggak jadi ditulis.

Bukan karena nggak bisa.

Tapi karena capek duluan…

memikirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi.

Yang Jarang Disadari

Terlalu memikirkan masa depan…

atau terlalu menyesali masa lalu…

sering membuat kita kehilangan hari ini.

Padahal…

hidup selalu terjadi di sini.

Bukan di minggu depan.

Bukan di kemungkinan-kemungkinan yang ada di kepala.

Dan ironisnya…

ilmu yang sudah kita kumpulkan…

nggak akan pernah terasa cukup…

kalau nggak pernah dicoba.

Dan sering kali,
semakin lama kita hidup di kepala sendiri,
semakin mudah kita mulai meragukan diri sendiri.

Jecky pernah ada di fase itu, dan pernah menuliskannya lebih dalam di artikel:

Kenapa Kita Mulai Meragukan Diri Sendiri Saat Konten Tidak Jalan?


Yang Pelan-Pelan Mulai Berubah

Jecky masih belajar soal ini.

Masih sering overthinking.

Masih sering pengen semuanya jelas dulu.

Tapi pelan-pelan Jecky mulai sadar…

kejelasan itu kadang nggak datang sebelum kita berjalan.

Justru dia muncul…

di tengah perjalanan.

Bukan sebelum berangkat.

Makanya sekarang…

daripada sibuk memastikan sepuluh langkah ke depan…

Jecky cuma mencoba melihat:

“Langkah kecil apa yang bisa dilakukan hari ini?”

Dan anehnya…

kepala jadi sedikit lebih tenang.

Mungkin karena Jecky juga mulai berhenti
terlalu sering melihat perjalanan orang lain.

Karena ternyata, membandingkan diri terus-menerus
juga bisa membuat proses ini terasa melelahkan.

Jecky pernah cerita soal itu di artikel:

Kenapa Membuat Konten Sekarang Terasa Melelahkan?

Penutup

Kadang kita bilang:

“Nanti kalau sudah siap.”

Padahal…

mungkin yang kita tunggu bukan kesiapan.

Tapi kepastian.

Dan masalahnya…

hidup nggak pernah benar-benar memberi itu.

Coba jujur.

Kamu benar-benar belum siap…

atau cuma takut melihat apa yang terjadi kalau akhirnya mulai?