Kenapa Tulisan Terasa Kaku Saat Terlalu Ingin Terlihat Profesional?

Kenapa Tulisan Terasa Kaku Saat Terlalu Ingin Terlihat Profesional


#Turunan   #Mindset

Pernah nggak…

Kamu sudah nulis pesan penawaran.

Lama.

Serius.

Kata-katanya dipilih hati-hati.

Kalimatnya disusun rapi.

Panjang.

Terasa lengkap.

Terasa profesional.

Kamu kirim.

Nunggu.

Satu jam.

Nggak ada respons.

Tiga jam.

Masih sunyi.

Besoknya…

masih sama.

Dibaca.

Tapi nggak dibalas.

Dan tiba-tiba muncul pertanyaan:

“Ini terlalu panjang nggak ya?”

“Atau terlalu formal?”

“Atau… malah susah dibacanya?”

Kamu Nggak Sendiri

Kalau kamu pernah ada di momen itu — Jecky ngerti.

Karena frustrasinya bukan cuma di pesannya.

Tapi di usaha yang sudah dikeluarkan…

namun nggak sampai ke orang yang membacanya.

Jecky Juga Pernah Di Sana

Waktu menulis halaman penawaran produk…

Jecky ingin kelihatan serius.

Kelihatan profesional.

Kelihatan seperti orang yang tahu apa yang sedang dilakukan.

Jadi pesannya dibuat sepanjang mungkin.

Kata-katanya dipilih yang terdengar elit.

Kalimat pendek yang sebenarnya sudah cukup…

dirombak jadi panjang.

Ditambah.

Dipoles.

Sampai terasa…

wah.

Jecky kirim dengan penuh keyakinan.

“Ini pasti kena.”

Tapi yang datang…

senyap.

Satu hari lewat.

Dua hari.

Nggak ada respons.

Jecky buka pesannya lagi.

Baca dari awal.

Dan baru sadar…

untuk sampai ke intinya, pembaca harus melewati tiga paragraf pembuka dulu.

Dua paragraf penjelasan.

Satu paragraf latar belakang.

Baru sampai ke poinnya.

Jecky duduk diam.

Mikir.

“Kalau aku yang menerima pesan sepanjang ini… aku baca sampai habis nggak?”

Jujur?

Mungkin nggak.

Dan di situ baru sadar…

selama ini Jecky nulis untuk terlihat pintar.

Bukan untuk dipahami.

Nulis untuk terkesan bagus.

Bukan untuk sampai ke orangnya.

Jecky ingat mulai coba kirim pesan yang lebih pendek setelahnya.

Lebih sederhana.

Lebih langsung.

Tanpa banyak kata yang terasa canggih.

Dan anehnya…

yang pendek itu…

justru lebih sering dibalas.

Bukan karena tiba-tiba tulisannya jadi lebih hebat.

Tapi karena orang akhirnya lebih mudah menangkap maksudnya.

Kenapa Itu Terjadi?

Karena kita sering mengira…

tulisan yang profesional harus terdengar profesional.

Padahal dua hal itu belum tentu sama.

Kita ingin tulisannya terkesan expert.

Jadi kalimat pendek dirasa kurang berbobot.

Kata sederhana dianggap terlalu biasa.

Akhirnya diganti dengan kata yang lebih rumit.

Satu kalimat dipanjangkan.

Lalu ditambah penjelasan.

Lalu dipoles lagi.

Sampai akhirnya…

kita sendiri hampir lupa apa yang sebenarnya mau disampaikan.

Bayangin kamu sedang ngobrol dengan seseorang.

Kamu ingin menjelaskan sesuatu yang kamu pahami.

Kalau ngomong langsung, mungkin kamu bisa menjelaskannya dengan sederhana.

Tapi begitu masuk ke tulisan…

tiba-tiba bahasanya berubah.

Lebih formal.

Lebih kaku.

Lebih hati-hati.

Seolah-olah ada tuntutan:

“Jangan sampai kelihatan nggak pintar.”

Padahal pembaca nggak sedang menguji kita.

Mereka cuma ingin mengerti.

Yang Jarang Disadari

Tulisan terasa sulit bukan karena topiknya rumit.

Tapi karena kita membuatnya lebih rumit dari yang seharusnya.

Dan semakin kita sibuk mengejar kesan profesional…

semakin jauh tulisan itu dari cara kita sebenarnya berbicara.

Ini juga yang membuat suara sendiri bisa terasa samar.

Bukan karena kita meniru orang lain.

Tapi karena kita terlalu sibuk mendandani kalimat…

sampai lupa bertanya:

“Kalau aku ngomong langsung, aku akan bilangnya seperti apa?”

Jecky pernah belajar bahwa menemukan suara sendiri bukan cuma soal berhenti meniru gaya orang lain.

Kadang kita juga perlu berhenti memaksa tulisan…

untuk terdengar lebih pintar daripada diri kita sendiri.

Karena pembaca nggak butuh kita terdengar sempurna.

Mereka cuma butuh merasa…

“Oh, gue ngerti maksudnya.”

Mulai Pelan Dari Sini

Jecky masih belajar soal ini.

Tapi satu hal yang mulai berubah:

Sebelum kirim atau publish…

Jecky coba baca ulang tulisan seperti sedang ngobrol dengan seseorang.

Lalu tanya:

“Kalau aku yang baca ini, aku ngerti nggak dalam beberapa detik pertama?”

Kalau jawabannya ragu…

sederhanakan.

Potong kalimat yang nggak perlu.

Ganti kata yang terlalu rumit.

Buang bagian yang sebenarnya cuma ada karena ingin terlihat pintar.

Bukan karena tulisan sederhana itu murahan.

Justru sebaliknya.

Menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami…

nggak selalu mudah.

Dan mungkin…

di situlah profesionalisme yang sebenarnya.

Bukan ketika pembaca berpikir:

“Wah, pintar banget orang ini.”

Tapi ketika mereka selesai membaca dan bilang:

“Oh… ternyata sesederhana itu.”

Penutup

Tulisan yang terlalu sibuk terlihat profesional…

lama-lama bisa memutus koneksi dengan pembaca.

Karena pembaca nggak datang untuk terkesan.

Mereka datang untuk memahami.

Untuk menemukan jawaban.

Atau sekadar merasa:

“Orang ini ngerti apa yang sedang gue alami.”

Dan rasa itu nggak selalu datang dari kalimat yang panjang.

Bukan juga dari kata-kata yang terdengar canggih.

Kadang…

justru dari kalimat sederhana yang terasa seperti seseorang sedang duduk di sebelah kita dan bilang:

“Gue ngerti.”

Mungkin itu juga alasan kenapa tulisan yang terasa manusia sering kali lebih membekas daripada tulisan yang berusaha terlalu keras terlihat sempurna.

Coba jujur.

Tulisan terakhir yang kamu buat…

sebenarnya untuk siapa?

Untuk pembacamu…

atau untuk kesanmu sendiri?