Kenapa Membangun Personal Brand Terasa Menakutkan?

Kenapa Membangun Personal Brand Terasa Menakutkan


#Turunan   #Mindset

Pernah nggak…

Kamu lagi scroll.

Lihat akun atau blog orang lain.

Kontennya bagus.

Trafficnya tinggi.

Penampilannya rapi dan meyakinkan.

Kamu lihat sebentar.

Lalu tanpa sadar…

lihat apa yang sedang kamu bangun.

Blog yang masih sepi.

Konten yang masih sedikit.

Traffic yang belum ke mana-mana.

Dan tiba-tiba muncul pikiran yang nggak enak:

“Apa yang aku punya sekarang…
nggak ada apa-apanya dibanding mereka.”

Keinginan yang tadinya mau publish…

tiba-tiba menguap.

Digantikan satu pertanyaan yang mengganjal:

“Siapa yang mau dengerin aku?”

Kamu Nggak Sendiri

Kalau kamu pernah ada di momen itu — Jecky ngerti.

Bukan sekadar ngerti.

Tapi sedang ada di sana juga.

Sekarang.

Jecky Juga Pernah Di Sana

Blog yang sedang Jecky bangun sekarang…

jujur — masih baru.

Traffic masih sepi.

Kontennya masih terus dikerjakan.

Dan Jecky tahu betul rasanya…

buka blog orang lain yang sudah jauh di depan.

Kontennya berkualitas.

Trafficnya sudah ribuan.

Komunitasnya sudah terbentuk.

Lalu balik lihat blog sendiri.

Sepi.

Jecky ingat satu siang yang nggak enak.

Duduk sendiri.

Scroll sana sini.

Lihat pesaing satu per satu.

Makin dilihat…

makin kecil rasanya.

Ada suara yang pelan-pelan mulai datang:

“Mereka sudah segitu…”

“Aku masih di sini.”

“Jangan-jangan… ini memang bukan jalannya Jecky.”

Dan untuk pertama kalinya…

Jecky benar-benar mempertimbangkan untuk berhenti.

Bukan karena nggak punya cerita.

Bukan karena nggak punya pengalaman yang mau dibagikan.

Tapi karena merasa…

apa yang dimiliki sekarang…

belum cukup bernilai di mata orang lain.

Jecky duduk diam lama.

Pikiran muter-muter.

“Siapa yang mau baca kalau trafficnya aja masih sepi?”

“Siapa yang mau dengerin kalau belum ada pencapaian yang bisa dibanggakan?”

“Ngapain terlihat kalau belum ada apa-apanya?”

Tapi di tengah semua suara itu…

muncul satu pertanyaan kecil yang berbeda:

“Kalau nggak mulai sekarang…
kapan aku merasa cukup siap?”

Dan Jecky nggak punya jawabannya.

Karena Jecky sadar…

“cukup siap” itu nggak punya tanggal pasti.

Selalu ada yang bisa dijadikan alasan untuk menunggu.

Selalu ada pesaing yang lebih jauh di depan.

Selalu ada pencapaian orang lain yang bikin diri sendiri terasa kecil.

Dan kalau terus menunggu sampai semua itu berubah…

mungkin nggak akan pernah mulai.

Kenapa Itu Terjadi?

Karena kita mengira personal brand itu dibangun…

setelah semuanya selesai.

Setelah trafficnya tinggi.

Setelah pencapaiannya ada.

Setelah orang sudah kenal siapa kita.

Jadi selama belum sampai di sana…

rasanya belum layak untuk terlihat.

Padahal mungkin…

kita sedang melihat perjalanan orang lain dari titik yang sudah jauh di depan.

Sementara perjalanan sendiri…

baru dimulai.

Mirip seperti yang pernah Jecky rasakan, ketika mulai bertanya apakah konsistensi yang dilakukan selama ini benar-benar membuat orang mengingat siapa yang menulisnya.
Karena ternyata, konsisten posting saja belum tentu membuat kita benar-benar diingat.

Dan ketika melihat orang lain sudah punya audience, kita sering lupa bahwa mereka juga pernah berada di titik ketika belum ada yang memperhatikan.

Bayangin dua orang yang sama-sama mulai membangun Instagram.

Yang satu menunggu sampai punya sesuatu yang “layak” untuk dibagikan.

Yang satu mulai berbagi dari hari pertama…

walaupun masih sepi.

Walaupun masih belajar.

Walaupun masih sering salah.

Beberapa waktu kemudian…

yang satu sudah mulai punya jejak.

Yang satu masih menunggu.

Bukan berarti yang mulai lebih dulu pasti langsung berhasil.

Bukan juga berarti setiap orang yang mulai akan langsung punya audience.

Tapi setidaknya…

ada sesuatu yang sudah dimulai.

Ada tulisan yang sudah pernah dibaca.

Ada video yang sudah pernah ditonton.

Ada satu-dua orang yang mulai tahu:

“Oh… ini Jecky.”

Dan mungkin…

itulah yang sering kita lewatkan.

Yang Jarang Disadari

Personal brand nggak dibangun setelah perjalanannya selesai.

Tapi justru dibangun…

saat perjalanan itu sedang berjalan.

Pengalaman yang kamu jalani…

sekecil apa pun…

punya sesuatu yang nggak dimiliki orang lain.

Bukan karena kamu paling hebat.

Bukan karena pengalamanmu paling luar biasa.

Tapi karena kamu mengalaminya dengan caramu sendiri.

Perjalanan tiap orang berbeda.

Pelajaran tiap orang berbeda.

Dan ada orang di luar sana…

yang mungkin sedang ada di titik yang persis sama dengan kamu hari ini.

Yang sedang bingung.

Yang sedang mulai.

Yang sedang melihat orang lain dan merasa tertinggal.

Yang cuma butuh tahu…

“Ternyata aku nggak sendirian.”

Kamu nggak harus menjadi ahli untuk menjadi teman perjalanan.

Kamu juga nggak harus sudah sampai untuk menceritakan jalan yang sedang kamu lewati.

Cukup jujur tentang apa yang sedang terjadi.

Dan mungkin…

justru di situlah orang mulai mengenalmu.

Mulai Pelan Dari Sini

Jecky masih dalam proses ini.

Masih ada hari-hari di mana scroll sebentar…

langsung bikin semangat redup.

Tapi satu hal yang pelan-pelan mulai berubah:

Mulai fokus berbagi proses…

bukan menunggu hasil.

Mulai terlihat dari hal kecil…

bukan menunggu punya sesuatu yang besar untuk ditunjukkan.

Karena pengalaman sederhana yang dibagikan dengan jujur…

tetap bisa bernilai bagi orang yang sedang menjalani hal yang sama.

Dan mungkin, ini juga berkaitan dengan hal yang sebelumnya Jecky pelajari tentang tulisan.

Kita sering mengira tulisan harus terdengar pintar supaya layak dibaca.
Padahal seperti yang Jecky temukan saat membahas kenapa menulis jujur ternyata lebih sulit daripada menulis pintar, yang membuat sebuah tulisan terasa dekat bukan selalu seberapa banyak yang kita tahu.

Tapi seberapa nyata kita hadir di dalamnya.

Begitu juga ketika mulai membangun personal brand.

Nggak harus selalu menunjukkan pencapaian.

Nggak harus terlihat sudah menguasai semuanya.

Nggak harus punya cerita yang luar biasa.

Kadang cukup menunjukkan:

“Ini yang sedang aku kerjakan.”

“Ini yang sedang aku pelajari.”

“Ini yang ternyata nggak berhasil.”

“Dan ini yang sedang aku coba lagi.”

Karena proses juga punya cerita.

Penutup

Kamu nggak perlu menjadi seseorang dulu…

untuk mulai terlihat.

Kamu juga nggak perlu menunggu sampai punya pencapaian besar…

baru merasa punya alasan untuk berbicara.

Kadang justru dengan mulai terlihat…

orang perlahan mengenal siapa kamu.

Dan mungkin…

seseorang di luar sana sedang menunggu cerita perjalananmu.

Bukan karena kamu sudah sampai.

Tapi karena kamu mau jujur tentang prosesnya.

Jadi…

Kalau hari ini kamu merasa belum punya cukup sesuatu untuk ditunjukkan…

mungkin pertanyaannya bukan:

“Apa aku sudah cukup hebat untuk terlihat?”

Tapi:

“Apa aku mau membiarkan orang melihat prosesku…
meskipun proses itu belum selesai?”