Dan ketika melihat orang lain sudah punya audience, kita sering lupa bahwa mereka juga pernah berada di titik ketika belum ada yang memperhatikan.
Bayangin dua orang yang sama-sama mulai membangun Instagram.
Yang satu menunggu sampai punya sesuatu yang “layak” untuk dibagikan.
Yang satu mulai berbagi dari hari pertama…
walaupun masih sepi.
Walaupun masih belajar.
Walaupun masih sering salah.
Beberapa waktu kemudian…
yang satu sudah mulai punya jejak.
Yang satu masih menunggu.
Bukan berarti yang mulai lebih dulu pasti langsung berhasil.
Bukan juga berarti setiap orang yang mulai akan langsung punya audience.
Tapi setidaknya…
ada sesuatu yang sudah dimulai.
Ada tulisan yang sudah pernah dibaca.
Ada video yang sudah pernah ditonton.
Ada satu-dua orang yang mulai tahu:
“Oh… ini Jecky.”
Dan mungkin…
itulah yang sering kita lewatkan.
Yang Jarang Disadari
Personal brand nggak dibangun setelah perjalanannya selesai.
Tapi justru dibangun…
saat perjalanan itu sedang berjalan.
Pengalaman yang kamu jalani…
sekecil apa pun…
punya sesuatu yang nggak dimiliki orang lain.
Bukan karena kamu paling hebat.
Bukan karena pengalamanmu paling luar biasa.
Tapi karena kamu mengalaminya dengan caramu sendiri.
Perjalanan tiap orang berbeda.
Pelajaran tiap orang berbeda.
Dan ada orang di luar sana…
yang mungkin sedang ada di titik yang persis sama dengan kamu hari ini.
Yang sedang bingung.
Yang sedang mulai.
Yang sedang melihat orang lain dan merasa tertinggal.
Yang cuma butuh tahu…
“Ternyata aku nggak sendirian.”
Kamu nggak harus menjadi ahli untuk menjadi teman perjalanan.
Kamu juga nggak harus sudah sampai untuk menceritakan jalan yang sedang kamu lewati.
Cukup jujur tentang apa yang sedang terjadi.
Dan mungkin…
justru di situlah orang mulai mengenalmu.
Mulai Pelan Dari Sini
Jecky masih dalam proses ini.
Masih ada hari-hari di mana scroll sebentar…
langsung bikin semangat redup.
Tapi satu hal yang pelan-pelan mulai berubah:
Mulai fokus berbagi proses…
bukan menunggu hasil.
Mulai terlihat dari hal kecil…
bukan menunggu punya sesuatu yang besar untuk ditunjukkan.
Karena pengalaman sederhana yang dibagikan dengan jujur…
tetap bisa bernilai bagi orang yang sedang menjalani hal yang sama.
Dan mungkin, ini juga berkaitan dengan hal yang sebelumnya Jecky pelajari tentang tulisan.
Kita sering mengira tulisan harus terdengar pintar supaya layak dibaca. Padahal seperti yang Jecky temukan saat membahas kenapa menulis jujur ternyata lebih sulit daripada menulis pintar, yang membuat sebuah tulisan terasa dekat bukan selalu seberapa banyak yang kita tahu.
Tapi seberapa nyata kita hadir di dalamnya.
Begitu juga ketika mulai membangun personal brand.
Nggak harus selalu menunjukkan pencapaian.
Nggak harus terlihat sudah menguasai semuanya.
Nggak harus punya cerita yang luar biasa.
Kadang cukup menunjukkan:
“Ini yang sedang aku kerjakan.”
“Ini yang sedang aku pelajari.”
“Ini yang ternyata nggak berhasil.”
“Dan ini yang sedang aku coba lagi.”
Karena proses juga punya cerita.
Penutup
Kamu nggak perlu menjadi seseorang dulu…
untuk mulai terlihat.
Kamu juga nggak perlu menunggu sampai punya pencapaian besar…
baru merasa punya alasan untuk berbicara.
Kadang justru dengan mulai terlihat…
orang perlahan mengenal siapa kamu.
…
Dan mungkin…
seseorang di luar sana sedang menunggu cerita perjalananmu.
Bukan karena kamu sudah sampai.
Tapi karena kamu mau jujur tentang prosesnya.
Jadi…
Kalau hari ini kamu merasa belum punya cukup sesuatu untuk ditunjukkan…
mungkin pertanyaannya bukan:
“Apa aku sudah cukup hebat untuk terlihat?”
Tapi:
“Apa aku mau membiarkan orang melihat prosesku… meskipun proses itu belum selesai?”