Kenapa Setelah Mulai, Kita Malah Kehilangan Arah?

Kenapa Setelah Mulai, Kita Malah Kehilangan Arah


#Turunan   #Mindset

Pernah nggak…

Kamu sudah mulai.

Blog sudah jalan.

Konten sudah keluar.

Tapi suatu hari…

kamu scroll timeline.

Lihat topik yang lagi ramai.

Banyak yang baca.

Banyak yang share.

Dan tiba-tiba muncul pikiran:

“Kayaknya kalau aku nulis topik ini…
bakal lebih banyak yang baca juga.”

Mulailah nulis topik itu.

Lalu topik lain yang lagi viral.

Lalu ikut tren yang sedang naik.

Awalnya terasa masuk akal.

Toh, ada yang baca.

Ada yang merespons.

Ada angka yang bergerak.

Tapi tanpa sadar…

beberapa bulan kemudian…

kamu buka blog sendiri dari atas ke bawah.

Dan tiba-tiba merasa asing.

“Ini… blog aku?”

“Kok aku nggak kenal sama isinya sendiri?”

Kamu Nggak Sendiri

Kalau kamu pernah ada di titik itu — Jecky ngerti.

Karena bingungnya bukan di topiknya.

Tapi di kehilangan arah yang terjadi pelan-pelan…

tanpa pernah benar-benar disadari.

Jecky Juga Pernah Di Sana

Waktu pertama mulai blog…

Jecky sudah punya gambaran yang cukup jelas.

Mau nulis soal perjalanan membangun bisnis online.

Jujur.

Apa adanya.

Dari pengalaman sendiri.

Dan justru itu yang bikin Jecky semangat di awal.

Tapi lama-lama…

konten yang keluar masih sepi.

Traffic nggak banyak bergerak.

Dan Jecky mulai melirik postingan orang lain yang ramai.

Topik viral minggu ini apa?

Konten yang paling banyak dibagikan temanya apa?

Orang lagi banyak cari apa?

Awalnya cuma melihat.

Lalu mencoba satu.

Jecky ingat mulai menulis satu topik yang sedang ramai.

Lumayan.

Ada yang baca.

Lalu mencoba topik lain yang sedang naik.

Ada yang engage.

Dan Jecky mulai berpikir:

“Mungkin ini yang orang mau baca.”

Di situlah semuanya mulai bergeser.

Pelan.

Satu topik.

Dua topik.

Tiga topik.

Sampai suatu hari Jecky buka blog sendiri.

Scroll dari atas ke bawah.

Dan berhenti.

Diam.

Ada yang terasa aneh.

Blog ini masih punya nama Jecky di atasnya.

Tapi isinya…

terasa seperti milik orang lain.

Topik sana-sini.

Nggak ada benang merah yang terasa kuat.

Nggak ada suara yang konsisten.

Di situ Jecky mulai mikir pelan-pelan:

“Dari mana semua ini datangnya?”

Dan jawabannya nggak enak.

Semua bermula dari keputusan kecil yang waktu itu terasa sangat wajar:

“Nulis apa yang orang suka.”

Bukan karena Jecky sudah nggak punya sesuatu untuk disampaikan.

Tapi karena angka mulai terasa seperti petunjuk bahwa itulah arah yang benar.

Kalau ramai, diulang.

Kalau sepi, ditinggalkan.

Kalau banyak yang suka, dibuat lagi.

Sampai akhirnya…

yang menjadi kompas bukan lagi arah yang ingin Jecky bangun.

Tapi respons orang.

Dan keputusan kecil itu…

diulang terus.

Sampai yang tersisa bukan lagi suara Jecky.

Tapi kumpulan topik yang terbentuk dari apa yang dianggap akan disukai orang.

Kenapa Itu Terjadi?

Karena disukai orang…

terasa menyenangkan.

Terasa seperti validasi.

Terasa seperti bukti bahwa kita sedang berada di jalur yang benar.

Apalagi ketika sebelumnya sudah lama membuat sesuatu…

tapi responsnya sepi.

Lalu tiba-tiba ada satu tulisan yang ramai.

Ada yang share.

Ada yang komentar.

Ada traffic yang naik.

Rasanya seperti menemukan jawaban.

“Oh… ternyata orang sukanya yang seperti ini.”

Dan kita mengulanginya.

Lalu mengulanginya lagi.

Sampai akhirnya ada sesuatu yang berubah.

Kita nggak lagi bertanya:

“Apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan?”

Tapi mulai bertanya:

“Apa yang kira-kira akan disukai orang?”

Keduanya terdengar mirip.

Tapi arah yang dituju…

berbeda.

Yang pertama membuat kita mencari cara untuk menyampaikan sesuatu yang memang kita percaya.

Yang kedua membuat kita mencari sesuatu yang kemungkinan besar akan mendapat respons.

Dan kalau terus dilakukan…

kita bisa sampai di satu titik di mana angka terlihat semakin bagus…

tapi hubungan kita dengan apa yang sedang dibangun…

justru semakin jauh.

Bayangin seorang penulis yang awalnya punya satu alasan sederhana untuk menulis.

Dia ingin membagikan pengalaman.

Ingin mencatat perjalanan.

Ingin membantu orang yang mungkin sedang berada di titik yang sama.

Tapi suatu tulisan tiba-tiba ramai.

Lalu semua tulisan berikutnya dibuat dengan pola yang sama.

Bukan karena semuanya masih ingin dibicarakan.

Tapi karena sudah tahu…

“Ini yang disukai orang.”

Lama-lama…

yang tadinya ekspresi…

berubah menjadi produksi.

Dan yang tadinya perjalanan…

berubah menjadi perlombaan mengejar respons.

Yang Jarang Disadari

Mendengarkan audience itu perlu.

Jecky nggak bilang kita harus mengabaikan mereka.

Justru dari audience kita bisa belajar banyak hal.

Apa yang mereka butuhkan.

Apa yang belum mereka pahami.

Apa yang membuat mereka berhenti membaca.

Dan apa yang ternyata membantu mereka.

Tapi ada bedanya antara…

mendengarkan untuk berkembang

dan

menyerahkan identitas kepada mereka.

Yang pertama membuat kita tumbuh.

Yang kedua membuat kita kehilangan arah.

Karena audience bisa memberi kita sinyal…

tapi mereka nggak selalu tahu perjalanan seperti apa yang sebenarnya ingin kita bangun.

Angka bisa menunjukkan apa yang menarik perhatian.

Tapi angka nggak selalu bisa menjawab:

“Aku sebenarnya ingin dikenal sebagai apa?”

Dan menurut Jecky…

di situlah kita perlu kembali melihat diri sendiri.

Bukan untuk menjadi keras kepala.

Bukan untuk menolak semua masukan.

Tapi untuk mengingat…

kenapa kita mulai dari awal.

Karena setiap orang membawa perjalanan yang berbeda.

Pengalaman yang berbeda.

Kesalahan yang berbeda.

Hal-hal yang disadari dengan cara yang berbeda.

Itulah yang membuat satu cerita…

nggak akan pernah benar-benar sama dengan cerita orang lain.

Dan kalau semua yang kita buat terus disesuaikan hanya supaya diterima…

lama-lama bagian yang paling unik dari perjalanan itu justru bisa hilang.

Bukan karena orang lain mengambilnya.

Tapi karena kita sendiri yang terlalu lama menyingkirkannya.

Mulai Pelan Dari Sini

Jecky masih belajar soal ini.

Masih dalam proses menemukan kembali arah yang sempat bergeser.

Dan mungkin…

nggak ada salahnya mengakui kalau kadang angka memang memengaruhi keputusan kita.

Traffic sepi bikin ragu.

Konten yang ramai bikin penasaran.

Respons audience bikin senang.

Dan semuanya wajar.

Tapi satu hal yang pelan-pelan mulai berubah:

Tetap mendengarkan.

Tetap terbuka dengan masukan.

Tapi kembali pegang kemudi sendiri.

Karena audience bisa memberi tahu apa yang sedang mereka butuhkan.

Tapi bukan berarti mereka harus menentukan seluruh arah perjalanan.

Angka bisa membantu kita melihat mana yang bekerja.

Tapi bukan berarti semua yang berhasil harus kita ulangi.

Dan sesuatu yang sepi…

bukan berarti otomatis nggak bernilai.

Mungkin belum ditemukan orang yang tepat.

Mungkin belum waktunya.

Atau mungkin memang perlu diperbaiki.

Tapi keputusan untuk memperbaikinya…

tetap datang dari kita.

Jadi sebelum membuat sesuatu hanya karena sedang ramai…

mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang bisa ditanyakan:

“Kalau nggak ada yang melihat…
aku masih ingin membuat ini nggak?”

Kalau jawabannya iya…

mungkin itu memang bagian dari perjalananmu.

Dan kalau jawabannya tidak…

mungkin yang sedang dikejar bukan lagi arah.

Tapi validasi.

Penutup

Setelah mulai membangun sesuatu…

kita mungkin akan tergoda untuk terus melihat ke luar.

Melihat apa yang ramai.

Melihat apa yang disukai.

Melihat apa yang berhasil untuk orang lain.

Dan semua itu boleh.

Karena kita memang perlu belajar.

Tapi jangan sampai…

karena terlalu sibuk mendengarkan suara dari luar…

kita lupa mendengar alasan kenapa dulu kita mulai.

Karena pada akhirnya…

audience bukan orang yang harus kita puaskan setiap saat.

Mereka adalah orang yang ingin kita pahami.

Dan dari sana…

kita tetap punya pilihan:

apa yang ingin kita sampaikan,

apa yang ingin kita bangun,

dan seperti apa perjalanan yang ingin kita jalani.

Coba jujur.

Kalau semua angka, komentar, dan respons orang lain tiba-tiba hilang…

apa yang masih ingin kamu ceritakan?

Karena mungkin…

di situlah kamu akan menemukan kembali alasan kenapa dulu kamu mulai.