Kenapa Tidak Ada yang Melihat Konten Kita? Ini yang Baru Jecky Sadari


#Pilar  #Traffic&Audience

Rasanya Sudah Posting Terus… Tapi Tetap Sepi

Pernah nggak…

Kamu sudah bikin banyak konten.

Sudah belajar cara nulis.
Sudah cari ide.
Sudah coba konsisten upload.

Bahkan kadang sampai begadang cuma buat nyelesain satu postingan.

Lalu setelah selesai…

kamu lihat lagi kontennya pelan-pelan.

Dan dalam hati ada harapan kecil:

“Kayaknya ini bagus deh.”

Lalu di-post.

Besok paginya…
refleks buka HP.

Cek notifikasi.

Siapa tahu ada yang komen.
Atau minimal… ada yang benar-benar berhenti membaca.

Tapi ternyata…

sepi.

Nggak ada respon berarti.

Dan anehnya…

yang bikin capek bukan cuma karena kontennya sepi.

Tapi karena mulai bingung sendiri.

“Yang salah di mana ya?”

Akhirnya besok bikin konten lain lagi.

Hari ini bahas satu topik.
Besok ganti lagi.
Lusa ikut tren baru.

Begitu terus.

Sampai satu titik…

kontennya sudah banyak.

Tapi tetap nggak ada yang benar-benar datang.

Kalau kamu pernah ada di fase itu…

Jecky ngerti.

Karena Jecky juga pernah mikir:

“Apa memang konten gue nggak bagus?”

Dulu Jecky Pikir Traffic Itu Soal Rajin Posting

Awal kenal dunia digital…

Jecky pikir semuanya sederhana.

Kalau mau ada traffic:

  • bikin konten
  • posting rutin
  • ulang terus

Harusnya nanti orang datang sendiri.

Makanya dulu Jecky fokus banget sama jumlah.

Hari ini upload.
Besok upload lagi.
Lusa bikin topik baru.

Pokoknya yang penting aktif.

Tapi makin lama…

kok rasanya aneh.

Konten terus jalan.

Tapi orang tetap lewat begitu aja.

Nggak berhenti.
Nggak benar-benar peduli.

Dan jujur…

di situ mulai capek.

Bukan capek bikin kontennya.

Tapi capek berharap.

Sampai Jecky Baru Sadar Satu Hal Penting

Suatu hari Jecky baca satu kutipan dari Philip Kotler.

“Tidak ada perusahaan yang waras yang mencoba menjual kepada semua orang.”

Jecky baca pelan-pelan.

Diam sebentar.

Karena entah kenapa…

kalimat itu terasa nancep…
kayak nyindir tanpa nama

Jecky baru sadar:

selama ini kontennya ngomong ke semua orang.

Semua topik dicoba.
Semua gaya dicoba.
Semua tren diikutin.

Harapannya cuma satu:

“Semoga ada yang nyangkut.”

Padahal…

orang yang lihat malah bingung.

“Ini sebenarnya buat siapa ya?”

Dan di situ Jecky mulai ngerti:

masalahnya bukan selalu karena kontennya jelek.

Tapi karena kontennya belum terasa relevan buat orang tertentu.

Traffic Bukan Soal Banyak Posting

Jecky dulu kira:

semakin sering posting,
semakin besar peluang dilihat.

Padahal kenyataannya nggak sesederhana itu.

Karena di internet…

orang bukan kekurangan konten.

Mereka kebanyakan konten.

Setiap hari mereka lihat:

  • video
  • thread
  • caption
  • jualan
  • promosi

Semuanya berebut perhatian.

Dan otak manusia capek.

Makanya sekarang pertanyaannya bukan lagi:

“Apakah kita sudah posting?”

Tapi:

“Apakah konten kita cukup relevan sampai orang mau berhenti memperhatikan?”

Kenapa Banyak Konten Akhirnya Tidak Dilihat?

1. Karena Kontennya Terlalu Umum

Ini yang paling sering terjadi.

Kita takut memilih audience.

Akhirnya semua orang mau disasar.

Hari ini bahas bisnis.
Besok motivasi.
Lusa jualan.

Semuanya dicampur.

Dan akhirnya…

nggak ada yang benar-benar merasa:

“Ini akun buat gue.”

2. Karena Kita Belum Jelas Ngomong ke Siapa

Kadang kita terlalu fokus bikin konten.

Tapi lupa satu hal penting:

siapa sebenarnya yang mau kita bantu?

Padahal semakin jelas orangnya…

semakin mudah bikin konten yang terasa relevan.

3. Karena Terlalu Cepat Jualan

Jecky dulu juga begitu.

Baru bikin konten sedikit…
langsung arahkan ke produk.

Padahal orang baru kenal.

Belum percaya.
Belum tertarik.

Akhirnya sebelum mereka peduli…

mereka sudah pergi duluan.

4. Karena Gonta-ganti Arah Terus

Konten sepi sedikit…
langsung panik.

Lihat orang lain berhasil pakai gaya tertentu…
langsung ikut.

Akhirnya akun kehilangan arah.

Dan tanpa sadar…

orang juga jadi bingung:

“Sebenernya akun ini bahas apa?”

Yang Mulai Jecky Ubah Pelan-Pelan

Jecky nggak langsung berubah drastis.

Pelan aja.

Tapi mulai belajar beberapa hal sederhana.

Pertama.
Berhenti bikin konten untuk semua orang.

Mulai pilih siapa yang benar-benar mau diajak ngobrol.

Kedua.
Mulai bikin topik yang lebih spesifik.

Bukan sekadar ramai.
Tapi relevan.

Ketiga.
Berhenti terlalu buru-buru jualan.

Fokus dulu bikin orang berhenti membaca.

Keempat.
Belajar konsisten di satu arah.

Supaya orang mulai ngerti:

“Oh… akun ini memang bahas ini.”

Dan anehnya…

waktu Jecky mulai lebih jelas ngomong ke siapa…

pelan-pelan mulai ada perubahan.

Ada yang mulai komen.
Ada yang mulai balik baca lagi.
Ada yang mulai nanya.

Nggak langsung ramai.

Tapi setidaknya…

kontennya mulai terasa nyampe.

Mungkin Selama Ini Bukan Kontennya yang Salah

Sekarang Jecky mulai sadar…

banyak konten gagal bukan karena jelek.

Tapi karena terlalu luas.

Terlalu sibuk bicara ke semua orang.

Sampai akhirnya…

tidak benar-benar relevan untuk siapa-siapa.

Dan di dunia yang penuh konten sekarang…

orang nggak mencari konten paling ramai.

Mereka mencari konten yang terasa:

“Ini memang buat gue.”

Jadi sebelum bikin konten berikutnya…

coba tanya sebentar ke diri sendiri:

“Sebenernya… aku lagi ngomong ke siapa?”