Kenapa Menulis Jujur Ternyata Lebih Sulit daripada Menulis Pintar?

Kenapa Menulis Jujur Ternyata Lebih Sulit daripada Menulis Pintar


#Turunan   #Mindset

Pernah nggak…

Kamu lagi nulis.

Sudah dapat ide.

Sudah tahu mau ngomong apa.

Tapi waktu mau tulis yang sebenarnya…

tangan tiba-tiba berhenti.

Ada yang menahan.

Bukan karena nggak tahu kata-katanya.

Tapi karena terlalu jujur rasanya.

“Kalau aku tulis ini… orang mikir apa?”

“Nanti dibilang nggak kompeten.”

“Nanti dihakimi.”

Akhirnya…

kalimat yang tadinya jujur…

diganti yang terdengar lebih aman.

Lebih pintar.

Lebih seperti orang yang tahu segalanya.

Dan tulisan selesai.

Tapi ada rasa yang nggak enak di dada.

Seperti ada sesuatu…

yang nggak ikut tertulis.

Kamu Nggak Sendiri

Kalau kamu pernah ada di momen itu — Jecky ngerti.

Karena sulitnya bukan di memilih kata.

Tapi di keberaniannya.

Keberanian untuk menulis sesuatu yang benar-benar nyata…

tanpa sibuk menjaga citra.

Jecky Juga Pernah Di Sana

Ada satu momen yang masih Jecky ingat.

Jecky selesai nulis satu artikel.

Isinya sudah rapi.

Strukturnya sudah enak.

Insight-nya juga terasa.

Tapi sebelum tombol publish diklik…

Jecky menghapus satu paragraf.

Bukan karena salah.

Bukan karena nggak nyambung.

Tapi karena terlalu jujur.

Di paragraf itu Jecky cerita kalau sampai hari itu…

blog yang sedang dibangun ini…

belum juga memberikan hasil seperti yang Jecky harapkan.

Traffic belum besar.

Penghasilannya juga belum seperti yang dibayangkan dulu.

Jecky sempat berpikir:

“Kalau orang tahu ini…”

“Apa mereka masih percaya sama tulisanku?”

“Apa mereka bakal mikir aku nggak layak ngomongin perjalanan ini?”

Akhirnya paragraf itu dihapus.

Artikelnya tetap publish.

Tapi waktu Jecky baca lagi…

rasanya seperti ada bagian dari diri sendiri yang hilang.

Di situ Jecky baru sadar.

Selama ini yang dijaga bukan kualitas tulisannya.

Tapi citranya.

Padahal sejak awal Jecky membangun blog ini…

bukan untuk terlihat paling tahu.

Tapi supaya orang lain nggak perlu mengulang kesalahan yang pernah Jecky alami.

Dan kalau bagian itu dihilangkan…

apa yang sebenarnya ingin Jecky sampaikan…

ikut hilang juga.

Kenapa Itu Terjadi?

Karena kita takut citra kita runtuh.

Takut orang tahu kalau kita pernah salah.

Pernah bingung.

Pernah gagal.

Jadi kita memilih kalimat yang terdengar aman.

Yang terdengar pintar.

Yang terdengar seperti orang yang sudah sampai…

padahal masih sama-sama berjalan.

Tanpa sadar…

kita lebih sibuk menjaga kesan…

daripada menjaga kejujuran.

Dan mungkin…

itulah yang membuat banyak tulisan terasa rapi…

tapi sulit benar-benar menyentuh pembacanya.

Yang Jarang Disadari

Menulis jujur bukan berarti menulis semuanya mentah-mentah.

Karena kalau semua dituangkan tanpa dipilih…

memang bisa terasa melelahkan untuk dibaca.

Menulis jujur berarti…

berani bercerita dari tempat yang benar-benar nyata.

Dari pengalaman yang memang pernah dijalani.

Dari pelajaran yang memang pernah dirasakan.

Bukan dari citra yang ingin dibangun.

Pembaca mungkin lupa detail isi tulisanmu.

Tapi mereka jarang lupa…

bagaimana tulisan itu membuat mereka merasa.

Mulai Pelan Dari Sini

Jecky masih belajar soal ini.

Masih sering ragu sebelum publish.

Masih sering bertanya:

“Bagian ini terlalu jujur nggak ya?”

Tapi sekarang…

Jecky pelan-pelan berhenti bertanya:

“Tulisan ini kelihatan pintar nggak?”

Dan mulai bertanya:

“Kalau bagian ini dihapus… apa yang paling ingin Jecky sampaikan ikut hilang?”

Kalau jawabannya iya…

berarti bagian itu memang harus tetap ada.

Walaupun sedikit menakutkan untuk dipublish.

Karena ternyata…

suara kita bukan muncul saat semuanya terlihat sempurna.

Tapi saat kita berani hadir apa adanya tanpa harus berpura-pura sudah sampai.

Dan mungkin…

di situlah kita mulai benar-benar menemukan identitas sendiri, bukan sekadar meniru suara orang lain.

Penutup

Mungkin…

pembaca memang datang karena mencari jawaban.

Tapi mereka bertahan…

karena akhirnya menemukan seseorang…

yang berani bilang:

“Aku juga pernah bingung.”

Karena kadang…

yang membuat seseorang percaya…

bukan orang yang selalu punya jawaban.

Tapi orang yang jujur…

tentang perjalanan mencari jawabannya.

Coba jujur.

Selama ini kamu menulis…

untuk membagikan apa yang benar-benar kamu alami…

atau untuk menjaga supaya orang tetap melihatmu…

sebagai orang yang selalu tahu?